Jumat, 31 Desember 2010

Berterimakasihlah Yang Baik dan benar



Memang budaya ”berterima kasih” ini sudah menjadi bagian hidup manusia yang tak mungkin bisa dilepaskan. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang sudah pasti akan ada hubungan timbal balik (interaksi) dan saling memberi. Nah dari situlah lahir budaya terima kasih. Akan tetapi sayang, kebiasaan berterima kasih ini lebih banyak atau lebih sering  dilakukan baru sebatas diantara sesama manusia, sedangkan yang hubungannya dengan Sang Pemberi yang sebenarnya yaitu Alloh SWT masih banyak yang belum melakukannya, atau seandainya melakukan ternyata belum sesuai dengan yang seharusnya.
Mungkin ada orang yang bertanya, apakah berterima kasih kepada Tuhan (Alloh SWT) ada ketentuannya? Tentu ada, wong berterima kasih kepada sesama manusia saja ada adab-adabnya atau tata caranya walaupun tidak tertulis. Misal, orang berterima kasih mestinya harus tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Kemudian ia buktikan dengan ucapan yaitu TERIMA KASIH dengan disertai senyum dan raut wajah yang ceria serta bersahabat bahkan bila perlu dibarengi dengan ucapan harapan kebaikan atau doa. Setelah itu sikapnya dengan si pemberi juga harus baik, seandainya si pemberi minta sesuatu yang ia bisa, mestinya juga dipenuhi dan sebagainya.
Begitulah tata cara berterima kasih dengan sesama manusia yang tidak tertulis tetapi sudah sama-sama dimaklumi. Lalu bagaimana caranya berterima kasih kepada Sang Pemberi yang pemberiannya tidak terhitung jumlahnya? Mengapa ada istilah berterima kasihlah dengan baik dan benar? Adakah orang yang berterima kasih dengan baik tapi tidak benar atau sebaliknya? 
Inilah beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan renungkan. Sebab dalam kenyataannya banyak terjadi orang bisa berterima kasih dengan sesama manusia namun tidak bisa berterima kasih dengan Alloh SWT. Ada yang bermaksud mau berterima kasih kepada Sang Pemberi (Alloh SWT) , tetapi yang dituju ternyata bukan Sang Pemberi, atau caranya tidak benar.

Bagaimana cara berterima kasih kepada Alloh
Untuk memudahkan kita dalam memahami bagaimana cara berterima kasih (bersyukur)  kepada Alloh ‘Azza wa Jalla mungkin ada baiknya kita buatkan ilustrasi (gambaran) seperti berikut ini. Ada seorang pembantu yang bekerja pada seorang majikan. Lalu si pembantu menerima upah atau gaji dari majikannya dengan gaji yang cukup besar yang bisa untuk menghidupi diri dan keluarganya. Bahkan tidak hanya itu saja, sang majikan memberikan bonus sebagai tambahan atas prestasi kerjanya yang bagus dan memberi fasilitas yang dibutuhkan si pembantu. Mendapat perlakuan seperti itu, si pembantu pun berterima kasih kepada sang majikan dengan mengucapkan terima kasih yang diiringi senyum manis sambil mengangguk penuh rasa hormat dan penghargaan.
Rasa senang dan gembira terpancar dari raut mukanya yang kelihatan sumringah. Kemudian iapun bekerja lebih baik lagi. Ia berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik bagi sang majikan sebagai bentuk balas budi atas semua pemberiannya yang sangat berharga bagi diri dan keluarganya. Makanya tak heran ketika sang majikan menyuruh dirinya untuk bekerja dengan jujur dan disiplin iapun laksanakan perintah itu dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.
Begitu juga tatkala sang majikan melarang dirinya untuk tidak minum alkohol, tidak berjudi, tidak berzina karena itu semua bisa mengganggu kinerjanya, maka iapun meninggalkannya.  Pendek kata ia (si pembantu) selalu berusaha untuk menaati semua ketentuan sang majikan  baik yang berupa perintah maupun larangan, karena ia  merasakan betapa banyak dan besar nilai pemberian sang majikannya. 
Nah bila kita perhatikan gambaran di atas maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa si pembantu tadi berterima kasih kepada sang majikan dengan beberapa media yaitu pertama, melalui lisannya dengan cara mengucapkan kata-kata terima kasih. Kedua, melalui hatinya yaitu hatinya mengakui bahwa semua kebaikan itu datang dari majikannya bukan dari orang lain serta merasa senang dan suka atas kebaikan majikan  tersebut. Hal itu nampak dari ekspresi wajahnya yang tersenyum ceria dan menganggukkan kepala. Ketiga, melalui anggota badannya yaitu dengan jalan ia bekerja dengan sebaik-baiknya, menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Itulah gambaran orang yang berterima kasih dengan baik dan benar.
Begitu pula hendaknya bila kita akan berterima kasih (bersyukur) kepada Alloh SWT mestinya harus mencakup tiga komponen tersebut, yaitu berterima kasih (bersyukur) dengan hatinya, bersyukur dengan lisannya dan bersyukur dengan anggota tubuhnya.

Bersyukur dengan hatinya
Berterima kasih (syukur) kepada Alloh dengan hati yaitu dalam hati kita  mengakui dengan sebenar-benarnya bahwa semua nikmat yang kita terima semata-mata hanya berasal dari Alloh SWT saja, bukan dari yang lain-Nya. Disamping itu hati juga harus merasa senang  dan ridho dengan nikmat-nikmat tersebut, tidak menggerutu atau jengkel. Karena tidak ada satupun nikmat Alloh yang mendatangkan keburukan bagi manusia, kecuali karena ulah manusia sendiri.
Sungguh hanya hati yang keras dan telah mati saja yang tidak bisa bersyukur atas nikmat pemberian Alloh. Bukankah Alloh SWT telah menghidupkan manusia dan mencukupi segala  keperluannya mulai dari kebutuhan pangan, sandang, papan, kebutuhan yang bersifat untuk kesenangan hidup seperti isteri, anak, tempat rekreasi dan sebagainya sampai pada petunjuk hidup agar manusia tidak tersesat dan selamat dunia akhirat. Maha benar Alloh SWT dengan firman-Nya yang artinya : ”Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Alloh telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin”. (QS Luqman : 20).

Bersyukur dengan lisannya
Yaitu dengan cara memuji, mensucikan dan mengagungkan Asma-Nya, misalnya mengucapkan Alhamdulillaahi robbil’aalamiin setiap kali merasakan adanya kenikmatan. Juga dengan banyak berdzikir seperti mengucap Subhaanalloh,  Alhamdulillah, Allohu Akbar atau kalimat-kalimat toyyibah lainnya sesuai tuntunan Rosululloh SAW. Firman Alloh SWT yang artinya : ”Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (QS. An Nashr : 3). Juga firman-Nya yang artinya : ”Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” (QS. Al A’laa : 1). ”Dan ingatlah Alloh banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al Jumu’ah : 10). 

Bersyukur dengan anggota badannya
Bagaimana cara bersyukur dengan anggota badan? Baiklah kita perhatikan sebuah hadits yang datang dari Ummul Mu’minin ’Aisyah ra yang artinya ” Dari ’Aisyah ra., ia berkata :” Nabi SAW berdiri sholat malam, hingga pecah-pecah kedua telapak kaki beliau. Saya bertanya kepada beliau : ” Untuk apakah engkau berbuata ini, wahai Rosululloh, sedangkan engkau telah benar-benar diampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan datang? Rosululloh SAW bersabda : ”Tak bolehkah aku menjadi hamba (orang) yang pandai bersyukur?”. (HR Bukhori dan Muslim)
Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rosululloh SAW melaksanakan sholat malam sampai telapak kakinya pecah-pecah, ini karena saking lamanya beliau sholat. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang lain sampai-sampai shohabat Ibnu Mas’ud ra. yang ikut sholat dibelakangnya mau duduk untuk berhenti sholat.
Yang menjadi keheranan bagi baginda Ummul Mu’minin (termasuk kita) kenapa sih Rosululloh SAW masih mau berbuat seperti itu. Bukankah beliau SAW itu manusia yang sudah dijamin masuk syurga dan diampuni dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang? Kurang apa lagi? Sungguh sangat menakjubkan jawaban yang keluar dari mulut manusia yang paling agung ini, tak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai beryukur? Yah hanya untuk menjadi hamba (manusia) yang pandai beryukur beliau SAW mau bersusah payah dan menderita (ini hanya kelihatannya menurut kaca mata kita) melaksanakan amalan sunah lalu bagaimana dengan amalan-amalan yang wajib?.
Begitulah hendaknya cara manusia berterima kasih (bersyukur) kepada Alloh SWT dengan anggota tubuhnya yaitu badannya digunakan untuk melaksanakan ketaatan kepada Alloh SWT baik yang berupa perintah seperti sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, maupun yang berupa larangan seperti menjauhi perbuatan syirik, zina, minum khomer, berjudi dan sebagainya.
Bagaimana dengan manusia kebanyakan yang ada sekarang ini? Wow jauh, jauh sekali. Yang ada justru mereka berterima kasih kepada makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mendatangkan manfaat maupun madhorot seperti minta perlindungan, keselamatan, kemakmuran, keberkahan kepada jin, gunung, gua, laut, bumi, makam-makam dan sebagainya. Itulah cara berterima kasih yang tidak baik dan keliru. Karena mereka menujukan terima kasihnya bukan kepada yang bisa memberi kebaikan yaitu Alloh SWT.
Mari kita senantiasa berusaha dan berdoa kepada Alloh SWT untuk bisa berterima kasih kepada-Nya dengan baik dan benar. Karena ini sangat menentukan celaka atau selamatnya kita baik di dunia maupun di akhirat.

Wallohu a’lam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan Komentar untuk diskusi bersama

SMS GRATIS BOS.!

Group